Dentuman
PerempuanAksara
Bukan
tentang siapa lalu aku tertawa, bukan tentang seberapa lama lalu aku setia dan
bukan tentang akhir tahun lalu aku berpesta.
Merayakan kepergian serupa menyambut kedatangan yah tentang tahun 2016
di penghujung petang dan tentang kedatangan tahun 2017 dengan segala bait-bait
lalu menghambur serupa bahasa Tuhan.
Berbahagia,
mungkin kata yang tepat untuk mereka yang benar-benar menikmati pergantian
tahun menuju tahun yang lebih tua, turut berbahagia sebab tuhan masih
mengizinkan aku mengucapkan syukur di awal
tahun 2017.
Untuk
kesekian kalinya aku mendapat restu menikmati pergantian tahun di kota
metropolitan, Jakarta dan untuk kesekian kalinya lagi tuhan belum merestui kita
bersama menikmati pergantian tahun. Tiba-tiba
saja rupamu menyuguhkan rindu, yah kamu yang kunamai sahabat, sedang apa kamu? Menikmati
setiap dentuman yang menggelegar lalu menghambur ke atap-atap bumi? Ataukah sedang
mengasah hati untuk tentap menunaikan kata yang
pernah terucap 6 tahun silam?
Sejak
sore tadi tak kutemukan deretan namamu yang tertera di layar Hpku seperti mereka yang menyapa seraut rindu
tertantancap di mata batin yang telah dibuahi kebersamaan, lalu bagaimana
denganmu?
Sudahlah
sahabat, tak berkabarpun aku tahu kamu sedang
bersenandung dengan kisah yang belum kamu mulai. Tak apa jika kamu
melupakan tanggal di mana kamu menamai aku dengan sebutan “andikku”, kalau
boleh biarlah aku sejenak mengulang tumpukan kenangan denganmu sahabat, tepat
hari ini, 6 tahun kamu menjelma menjadi sahabatku dan sewaktu waktu menjelma
menjadi panutanku lalu menyerupai ayahku dan sesekali menjadi kekasihku.
Sahabat,
di sini begitu semberawut. Jalanan setapakpun dijadikan lapak untuk mengais
rezeki, bahkan untuk keluar di depan rumah saja sepertinya aku ragu bagaimana
tidak, desakan, peluh, bising, menyatu menyerupai dentuman lalu menghambur bersolek dengan
kemenangan.
Sahabat,
benar adanya jika kota ini menyandang ibu kota nan metropolitan, gang-gang yang dahulunya tempat anak-anak
belajar berlari malam ini menjadi taman jajakan, gemerlap lampu, yang berwarna
warni, petasan yang beradu dentuman kian merekah, lalu bagaimana aku bisa fokus
menunaikan rinduku kepadamu sedang disekelilingku tawa menggelegar layaknya
pesta baru saja di mulai.
Sahabat,
aku ingin marah tapi aku takut, taku jika keegoisanku menggantikan tawa mereka
dengan kecewa. Akupun bahagia dengan kedatangan tahun yang makin menua ini
sebab ritual yang selalu kutunaikan selama beberpa tahun silam setidaknya terwujud kembali, bersenandung
dengan kekasihku, kekasih yang belum kutemui nyata rupanya namun nyata dalam
ketiadaan. Aku meluruhkan segala harap,
menangis sejadi-jadinya dan kamu tahu sahabat, aku menemukan damai setelah
beberpa menit kutumpahkan segala tumpukan aksaraku termasuk kisahku denganmu
sahabat.
Sahabat,
dentuman mulai beradu ketenaran, ribuan mata tertuju pada atap-atap bumi yang
sedang kedatangan tamu dengan rupa yang aduhai dan mungkin saja sepasang
matamupun sedang menyaksikan sahabat lalu terbingkai puas di hatimu dan jika
benar, maaf sahabat kali ini kita tak sejalan aku memilih beradu Aksara dengan
hatiku sekiranya itupun membuatku bahagia.
Teruskanlah
sahabat, aku tak kan marah sebab akupun bukan ahli ulama yang akan
menerangkanmu kata per kata untuk tak merayakan tahun baru, sebab kamupun paham
bagaimana meritualkan syukur dengan
kesempatan memulai kata di awal tahun yang menua ini.
Dan
jika boleh sahabat, setelah kamu usai merayakan, berkabarlah. Andikmu ingin
bercerita tentang kata yang pernah
terucap 6 tahun silam. Aku menunggu!

