Senin, 20 Juni 2016

Untuk Perempuan Yang Kunamai TAMU

Hai, apa kabarmu? mungkin saja kamu sedang berbahagia ataupun berduka. Masih ingat denganku perempuan yang kamu ajak berbincang 6 bulan yang lalu melaluI hanpone (HP) yang kamu anggap kekasihmu? maafkan aku jika menamaimu TAMU dalam drama ini, namamu waktu itu samar diingatanku dan lebih peka ketika aku menamaimu TAMU.


Masih ingat tawaranmu mengajakku berjumpa di Kota Daeng, sepulangku nanti? kamu adalah tamu yang sangat istimewa unttuku dan dia. Aku memenuhi panggilanmu 6 bulan yang lalu, berkunjung ke Kota Daeng sembari menemui lelaki yang kunamai JK. 

Suaramu yang nyaring hari itu, bagaikan tamu yang sedang menikmati keramahan sang pemilik rumah. Rasa cintamu yang menggebu menutup mata hatimu sesama perempuan
yang kamu tahu saat itu dia adalah kekasihmu dan sudah menjadi milikmu...


Aku paham rasamu, tetapi kamu lupa siapa pemeran utama sebelum kehadiranmu, sudalahh semua sudah berlalu, aku hanya coba mengeja kata yang kamu tawarkan saat itu
sebab sejatinya cinta, adalah menerima bukan mengiba...

kelak kita dipertemukan semoga tak ada benci, sapalah aku jika melihatku terlebih dahulu barangkali kita bisa menjadi sahabat.

Jodoh tak memandang sebarapa lama berpisah ataupun seberapa lama bersamaa, sebab sang pengendali di atas segalanyalah  jadi penentu  untuk siapa kelak kita bersama .

Minggu, 19 Juni 2016

Senandung Ramadan di Langit Kota Daeng


ilustrasi, sumber: www.berbagipuisi.com
Ramadan, ada damai dalam pelukan sang khalik, kedatanganmu selalu dinanti untuk jiwa-jiwa penghuni surga. Tiada diksi seindah bulan yang sekali setahun engkau sugukan, sungguh indah bulan penuh pengampunan, bulan penuh rahmat. Aku menitikan air mata di puncak rumah tua di bawah langit Kota Daeng, meleburkan diri dengan malam tanpa siapa pun, jemariku mengajak bernostalgia di ritme imajinasi liar, yang terlintas tentang Ramadanku, bulan di mana dosa-dosa akan di ampuni bagi mereka yang bertaubat.