Puncak
bukan untuk aku bersama kalian
Hampir sebulan rencan ini sudah disusun matang-matang oleh
teman-teman seangkatan, mungkin saja rindu tak cukup menuntaskan kebersamaan
kami 4 tahun selama kuliah. Heheheheh.
Rindu memang tak pernah berakhir seperti
kisah dua sejoli teman semasa kuliah, sebut saja namanya Dania wanita yang
pernah menitipkan kasih kepada lelaki teman kuliahnya hanya saja mereka berbeda
jurusan, mereka saling mengenal ketika masih maba (mahasiswa baru), mungkin
saja ini dibilang cinta monyet, hanya saja hubungan mereka tak bertahan lama
dan berawal dari kisah yang berakhir, berawalpula mereka tak pernah bertutur
sapa.
Apa sebenarnya yang salah dari Cinta? Menjalin kasih, saling
menyanyangi dan ketika putus rasa itu berbanding terbalik seperti musuh
bebuyutan, 3 tahun mereka tak pernah saling menegur dan hari ini mereka kembali dipertemukan disuatu tempat di mana
mereka pernah mengadu kasih. Tak ada sepatah kata yang terungkap dari bibir sepasang sejoli ini,
semua tiba-tiba hening, kata yang sudah dirangkai 3 tahun lalu rupanya ambruk ketika sepasang bola mata bertatapan
tanpa kedipan, ternyata sepasang sejoli ini masih menyisihkan rindu meskipun
keduanya sudah memiliki pasangan masing-masing, siapa yang bisa mengelak dari
perasaan dan itu manusiawi. Mungkin saja kedatangan mereka di tempat yang
pernah terukir kisah kembali ingin menuntaskan rindu.
Ahh sudahlah kita
lupakan saja sepasang sejoli ini,biarkan mereka mengadu rindu seperti kita yang
segera menuntaskan rindu dipuncak bulsar, kembali kerencana teman-teman
angkatan yang ingin melakukan reunian atau temu kangen di puncak Bulussaraung (BULSAR).
Melihat info di group “yang ingin bergabung supaya ikut ngopi besok di warkop
Bundu. Sejenak saya senyum-senyum
sendiri sesekali kembali membaca pesan teman-teman, ide yang cukup menarik lain
dari yang lain biasanyakan reunian di kafe-kafe tapi ikali ini berbeda dan malam itupun saya berjanji untuk ikut direunian kali ini, ada
tantangan tersendiri mendaki sekaligus reunian, suatu kesatuan yang sangat
unik.
tak cukup waktu lama,
saya segera membalas pesan digroup menyatakan kesiapan ikut tanpa pikir
panjang,dan itu disambut baik oleh teman-teman. Tak sabar menunggu esok untuk
segera berkumpul membahas reunian kali ini dan yang pastinya ngopi bareng
mereka. Keesokan harinya jam menunjukkan pukul 10.30 saya segera melajukan
kimchi dengan manis tak cukup watu 15 menit saya sudah tiba diwarkop bundu, rupanya
teman-teman sudah datang duluan, kulihat dari kejauhan lelaki dengan fisik
sedit tipis meneguk dengan lihai kopi yang sudah disuguhkan, wajahnya mulai
sedikit asing maklum setahun kami baru bertemu lagi dan kutemukan sapaan
senyuman manis yang tidak pernah berubah dari dulu, sebut saja namanya Fikri,
postur tubuhnya seperti model, bentuk rupanya yang cukup menawan di tambah
ginsulnya memperindah rupanya ketika senyum, alhasil dia menyandang gelar
palayboy semasa kami kuliah.
“hallo bebb”( itu panggilan kesayangan kami)
“ hallo bebb” (serentak mereka menyapaku, hehhehe kompak yaa)
Ada kedamaian sendiri ngopi bareng mereka, dan ternyata
kekonyolannya tak berubah membawa domino kemana-mana.
“ pesan apaki beb? Tawaran dari salah satu lelaki andalan,
sebut saja bang Zaenap, saya lebih senang memanggilnya abang, postur tubuh yang
sedikit dibawah rata-rata tapi keramahannya dan cara memperlakukan sahabat
perempuannya dengan penuh cinta membuat saya lupa kalau si abang ini ternyata
lebih pendek dari saya, hehhehe. Yang unik dari pertemuan kali ini, hanya saya
sendiri yang paling cantik dikelilingi 7 lelaki andalan, suatu kebahagiaan
memiliki sahabat seperti mereka.
“kita berangkkat setelah shalat jumat, semua peralatan sudah
siap, dan yang fiks ikut 15 lelaki dan 3 perempuan “ ( kata bang Zaenap dengan gagahnya)
Insha Allah bebb, siap (sekali lag kujawaba tanpa pikir
panjang)
Entah angin apa yang mencumbuiku sampai saya selalu mejawab
iya. Pertemuan kami hari itu tak berlangsung lama, kamipun berpisah dan kembali
ketempat masing-masing berhubung lusa kita akan berangkat, dan butuh istirahat.
Minus sehari kembali
teman laki-laki menanyakan kesiapan untuk keberangkatan besok. Saya seperti
bisu dadakan tak ada kata yang bisa kulontarka ada dentuman di dada menjanggal,
ada janji yang telah kuingkari, ada kecewa yang segera mungkin kudapati, tapi
saya harus memberi tahu mereka kalau saya tidak bisa ikut.
“ maaf, beribu maaf teman-teman rupanya Tuhan belum
mengijinkan kita bersama dipuncak, mengingat kondisi fisik yang tak
memungkingkan berhubung masih dalam proses penyembuhan, dan mendaki butuh
tenaga ekstra, saya tidak ingin membebani kalian”
Dan yang kubayangkan ternyata ada kecewa yang segera kutemui
itu benar.
“ dehh.. kenapaki tidak bisa ikut? usahakan bebb persiapan
sudah matang apalah artinya tanpa kamu” ( balasan dari salah satu teman
seangkatanku)
“ masalah fisik, saya siap jagaiki kecuali nyawata, ikutmaki!
( dan kali ini pesan saya dibalas dari salah satu lelaki yang jarang kudengar
suaranya)
Terharu dan merasa bersalah rupanya mereka begitu
menyanyangiku tapi saya tidak boleh egois hanya karena janji yang harus
kutunaikan banyak yang kukorbankan termasuk kesenangan mereka saat proses tiba
di puncak. Bukankah dalam berjanji kita boleh mengingkari jika memiliki alasan
yang logis. Sungguh tak pernah ingin kuhadiakan janji palsu hanya saja ragaku
tak mampu menjelaskan kata demi kata.
Tenang sahabat, janji yang kuingkari ini segera mungkin akan
kutebus meskipun bukan dipuncak, bersabarlah! Selamat mendaki teman-teman
andalan selamat sampai di puncak!
