Minggu, 16 Oktober 2016

http://imma-irma.blogspot.co.id/2016/10/httpimma-irmablogspotcom.html

Masa Bodoh
Maafkan kisahku jika pada akhirnya aku mendua, sungguh sepetinya aku telah kalah dan jalan satu-satunya aku mengikuti koridor yang sebenarnya agar tetap mencintaimu, kamu, dia dan mereka. Apa sih yang enak ketika sang penguasa memilih kita sebagai jagoan menaklukkan sakit? Pada umumnya manusia akan lebih mengeluh, mencaci ataupun lebih berserah diri, maafkan aku jika sok tahu.

Episode kali ini, giliran aku wanita terpilh menaklukkan penyakit ini, mungkin saja ini penyakit biasa dan tidak usah berlebihan, dan itu pernah kulakukan 3 tahun yang lalu, masa bodoh. Penyakit ini sebelumnya pernah mengunjungiku tetapi aku berusaha tak menemuinya sampai akhirnya diam-diam  menunggu titik kelemahanku dan hari ini aku nyatakan K.O.

Penyakit maag, identik dengan anak kos-kosan yang notabene jarang sarapan, sekali makan langsung lahap INTER atau lebih dikenal indomie telur, bukannya malas, indomie lebih praktis disajikan dan yang satunya murah meriah untuk kalangan anak kos- kosan.  Bukan hanya indomie saja penyebab penyakit maag, apalagi kalau bukan makanan pedis, bersantan, berminyak,kecut dan masih banyak lagi. Penyakit ini sungguh manja. Jangan salah ternyata penyakit ini cukup ganas ketika kita berusaha melawannya dengan tetap menyuguhkan sesajen pantangannya.
Malam hampir usai rupanya perut bagian ulu hati sudah mulai mengeluh dan itu kurasakan sejak 3 hari yang lalu tetapi dasarnya aku yang masa bodoh pura-pura mengalihkan dengan tetap menikmati semangkuk mie instan dan dileburkan 10 biji cabe rawit dengan iringan dentingan hujan, sungguh enaka bukan? Membanyangkannya saja aku sudah ngiler alhasil aku melambaikan tangan ke kamera sembari menangis karena merasa kalah dengan penyakit ini.

Lelaki yang kusebut kace keceku sudah tidak tahan melihat kesakitanku, setiap mencoba makan  tak butuh waktu lama semua yang tertelan kembali dimuntahkan, sungguh kejam isi segala perut kali ini. Dia memcoba membujukku untuk segera mungkin di bawa ke rumah sakit ditemani salah satu perempuanku yang kusebut mangkunrai silessurekku( saudara perempuanku) namanya Fitri. Awalnya aku tetap kekeh untuk tidak mengunjungi rumah yang dikelilingi dengan orang-orang sakit yang disampingnya dengan setia setiap cairan tergantung disampingnya sebagai penopang dengan penuh harap sesegera mungkin keluar dari tempat itu.

Siap sih yang ingin bermalam di rumah sakit dengan status pasien?  Menjadi wanita gemulai yang kerjaanya, tidur, menunggu sarapan, obat-obatan dan diagnosa dan adapun yang takdirnya kembali kepenciptanya di rumah sakit.  Mengerikkan ! Sakitnya makin menjadi, aku tak ingin mati muda tetapi bukankah ajal sudah ditentukan? Lalu apa yang harus aku takutkan! Ah benar adanya aku benar-benar sudah K.O dan merekapun mebawaku ke rumah sakit terdekat.
Tidak cukup 15 menit aku sudah tiba di UGD, perasaan yang sudah lemas efek tidak makan ditambah uluh hati yang makin menjadi- jadi menjadikan aku wanita manja( jabe) malam itu, ini bukan drama ataupun FTV yang ketika sakit seorang pangeran datang menggengam tanganya sembari mempersembahkan sajak-sajak cintanya agar kekasihnya kuat. Bukannya disayang-sayang dokter malah memarahiku habis-habisan, badanya yang sedikit berisi,kulitnya yang putih ditambah matanya yang sipit, tetapi tetap cantik.

“ siapa yang tinggal dengan dia” ( kata dokter)
“ saya dok, kakaknya” ( kakak kece)
“terakhir dia makan apa? ( kembali dokter itu bertanya dengan suara lantang)
“ sarabba sama gorengan”

Kembali kakak kece menjawab pertanyaan dokter itu dengan suara sedikit lebih pelan. Pantas saja dia kesakitan seperti itu, sebelumnya sudah ada riwayat penyakit maag?  Kali ini dia bertanya kepadaku, tanpa pikir panjang kujawab “ iya dok”. Belum selesai penggalan nafasku menjawab pertanyaanya spontan saja dokter itu memarahiku, “ sudah sering kali saya menemui pasien keras kepala seperti ini, dijelaskan jangan makan ini, itu tetap saja dihantam, katanya sekali-kali tidak apa-apa, giliran kembali sakit mengeluh. Seharusnya kamu tidak usah menangis nikmati saja toh kamu yang mau kan, biar diarawat berpulu-puluh hari kalau kamu keras kepala, tidak ada gunanya!

Suaranya menggelegar, tidak tahu apa bu dokter saya datang ke sini mau berobat bukan dimarahi    (gumamku dalam hati) aku hanya menganggukkan kepala ketika dia bertanya. “ Malam ini kamu tidak usah dirawat, saya hanya kasih obat untuk menghilangkan rasa mual dan perih dilambungmu tetapi besok pagi-pagi kamu harus kembali ke sini cek-up, ini obatnya diminum 15 menit sebelum makan ( volume suaranya sedikit sudah lebih pelan) dan menyerahkan obat itu kepada kakak kece

Aku kira petuah bu dokter ini sudah selesai ternyata dia masih menyuruhku berbaring sambil mendengar petuah selanjutnya.” Tatap mata saya, kamu mau sembuh kan? Iya dok( dengan nada sedikit jengkel, siapa sih tidak mau sembuh), bagus kalau begitu kamu dengar baik- baik untuk beberapa minggu ke depan kamu hanya boleh makan bubur tapi tidak bersantan, telur rebus dan harus banyak ngemil tapi jangan roti, cari biskuat atau semacam gabing, sekali lagi ku iyakan ptuah bu dokter ini.
Fikirku saya boleh pulang teryata masih berlanjut petuahnya “ dan ada beberapa makanan yang harus kamu hindari dulu, kasihan lambungmu, maag kamu sudah akut, kalau kamu tidak menyadari lama kelamaan kamu akan muntah darah itu efek lambungmu sudah luka, yang pertama kamu tidak boleh makan pedis, indomie, gorengan semacam apapun itu roti, sarabba, kecut dan bersantan. Kamu sebisa mungkin hindari makanan sejenis itu kalau kamu ingin sembuh kecuali tetap mau begitu silakan! Mohon maaf sebelumnya kalau saya memarahi kamu, ini semua kebaikan kamu, cobalah fikir kamu yang sakit berapa banyak waktumu terbuang, berapa banyak orang yang khawatir dan menyusahkan mereka, yah itu saja sekali maaf kalau suaraku sedikit keras, hehhehe

Rasa jengkelpun hilang mendengar diakhir petuah bu dokter ini meminta maaf karena sedikit keras,  dan akupun paham ini semua demi kebaikan aku. Sebelum kembali ke rumah aku telah berjanji dengan diriku sendiri untuk mengalahkan egoku dengan beralih makan bubur untuk beberapa minggu ke depan dan rutin minum obat agar aku tak menyusahkan orang lebih banyak. Terimakasih untuk lelaki yang setia menemaniku dan perempuan yang selalu ada disaat saya butuh, maafkan menyusahkan kalian
.
Jangan sepelekan penyakit maag  yang kamu anggap biasa-biasa saja karena pada akhirnya dampaknya akan membuat kamu menjadi seorang yang manja dengan berbelas kesembuhan dari tim medis dan terutama sang penguasa di atas segalanya.




2 komentar: