Masa Bodoh
Maafkan kisahku jika pada akhirnya aku mendua, sungguh
sepetinya aku telah kalah dan jalan satu-satunya aku mengikuti koridor yang
sebenarnya agar tetap mencintaimu, kamu, dia dan mereka. Apa sih yang enak
ketika sang penguasa memilih kita sebagai jagoan menaklukkan sakit? Pada
umumnya manusia akan lebih mengeluh, mencaci ataupun lebih berserah diri,
maafkan aku jika sok tahu.
Episode kali ini, giliran aku wanita terpilh menaklukkan
penyakit ini, mungkin saja ini penyakit biasa dan tidak usah berlebihan, dan
itu pernah kulakukan 3 tahun yang lalu, masa bodoh. Penyakit ini sebelumnya
pernah mengunjungiku tetapi aku berusaha tak menemuinya sampai akhirnya
diam-diam menunggu titik kelemahanku dan
hari ini aku nyatakan K.O.
Penyakit maag, identik dengan anak kos-kosan yang notabene
jarang sarapan, sekali makan langsung lahap INTER atau lebih dikenal indomie
telur, bukannya malas, indomie lebih praktis disajikan dan yang satunya murah
meriah untuk kalangan anak kos- kosan.
Bukan hanya indomie saja penyebab penyakit maag, apalagi kalau bukan
makanan pedis, bersantan, berminyak,kecut dan masih banyak lagi. Penyakit ini
sungguh manja. Jangan salah ternyata penyakit ini cukup ganas ketika kita
berusaha melawannya dengan tetap menyuguhkan sesajen pantangannya.
Malam hampir usai rupanya perut bagian ulu hati sudah mulai
mengeluh dan itu kurasakan sejak 3 hari yang lalu tetapi dasarnya aku yang masa
bodoh pura-pura mengalihkan dengan tetap menikmati semangkuk mie instan dan
dileburkan 10 biji cabe rawit dengan iringan dentingan hujan, sungguh enaka
bukan? Membanyangkannya saja aku sudah ngiler alhasil aku melambaikan tangan ke
kamera sembari menangis karena merasa kalah dengan penyakit ini.
Lelaki yang kusebut kace keceku sudah tidak tahan melihat
kesakitanku, setiap mencoba makan tak
butuh waktu lama semua yang tertelan kembali dimuntahkan, sungguh kejam isi
segala perut kali ini. Dia memcoba membujukku untuk segera mungkin di bawa ke
rumah sakit ditemani salah satu perempuanku yang kusebut mangkunrai
silessurekku( saudara perempuanku) namanya Fitri. Awalnya aku tetap kekeh untuk
tidak mengunjungi rumah yang dikelilingi dengan orang-orang sakit yang
disampingnya dengan setia setiap cairan tergantung disampingnya sebagai
penopang dengan penuh harap sesegera mungkin keluar dari tempat itu.
Siap sih yang ingin bermalam di rumah sakit dengan status
pasien? Menjadi wanita gemulai yang
kerjaanya, tidur, menunggu sarapan, obat-obatan dan diagnosa dan adapun yang
takdirnya kembali kepenciptanya di rumah sakit.
Mengerikkan ! Sakitnya makin menjadi, aku tak ingin mati muda tetapi
bukankah ajal sudah ditentukan? Lalu apa yang harus aku takutkan! Ah benar
adanya aku benar-benar sudah K.O dan merekapun mebawaku ke rumah sakit
terdekat.
Tidak cukup 15 menit aku sudah tiba di UGD, perasaan yang
sudah lemas efek tidak makan ditambah uluh hati yang makin menjadi- jadi
menjadikan aku wanita manja( jabe) malam itu, ini bukan drama ataupun FTV yang
ketika sakit seorang pangeran datang menggengam tanganya sembari mempersembahkan
sajak-sajak cintanya agar kekasihnya kuat. Bukannya disayang-sayang dokter
malah memarahiku habis-habisan, badanya yang sedikit berisi,kulitnya yang putih
ditambah matanya yang sipit, tetapi tetap cantik.
“ siapa yang tinggal dengan dia” ( kata dokter)
“ saya dok, kakaknya” ( kakak kece)
“terakhir dia makan apa? ( kembali dokter itu bertanya
dengan suara lantang)
“ sarabba sama gorengan”
Kembali kakak kece menjawab pertanyaan dokter itu dengan
suara sedikit lebih pelan. Pantas saja dia kesakitan seperti itu, sebelumnya
sudah ada riwayat penyakit maag? Kali
ini dia bertanya kepadaku, tanpa pikir panjang kujawab “ iya dok”. Belum
selesai penggalan nafasku menjawab pertanyaanya spontan saja dokter itu
memarahiku, “ sudah sering kali saya menemui pasien keras kepala seperti ini,
dijelaskan jangan makan ini, itu tetap saja dihantam, katanya sekali-kali tidak
apa-apa, giliran kembali sakit mengeluh. Seharusnya kamu tidak usah menangis
nikmati saja toh kamu yang mau kan, biar diarawat berpulu-puluh hari kalau kamu
keras kepala, tidak ada gunanya!
Suaranya menggelegar, tidak tahu apa bu dokter saya datang
ke sini mau berobat bukan dimarahi
(gumamku dalam hati) aku hanya menganggukkan kepala ketika dia bertanya.
“ Malam ini kamu tidak usah dirawat, saya hanya kasih obat untuk menghilangkan
rasa mual dan perih dilambungmu tetapi besok pagi-pagi kamu harus kembali ke
sini cek-up, ini obatnya diminum 15 menit sebelum makan ( volume suaranya
sedikit sudah lebih pelan) dan menyerahkan obat itu kepada kakak kece
Aku kira petuah bu dokter ini sudah selesai ternyata dia
masih menyuruhku berbaring sambil mendengar petuah selanjutnya.” Tatap mata
saya, kamu mau sembuh kan? Iya dok( dengan nada sedikit jengkel, siapa sih
tidak mau sembuh), bagus kalau begitu kamu dengar baik- baik untuk beberapa
minggu ke depan kamu hanya boleh makan bubur tapi tidak bersantan, telur rebus
dan harus banyak ngemil tapi jangan roti, cari biskuat atau semacam gabing,
sekali lagi ku iyakan ptuah bu dokter ini.
Fikirku saya boleh pulang teryata masih berlanjut petuahnya
“ dan ada beberapa makanan yang harus kamu hindari dulu, kasihan lambungmu,
maag kamu sudah akut, kalau kamu tidak menyadari lama kelamaan kamu akan muntah
darah itu efek lambungmu sudah luka, yang pertama kamu tidak boleh makan pedis,
indomie, gorengan semacam apapun itu roti, sarabba, kecut dan bersantan. Kamu
sebisa mungkin hindari makanan sejenis itu kalau kamu ingin sembuh kecuali
tetap mau begitu silakan! Mohon maaf sebelumnya kalau saya memarahi kamu, ini
semua kebaikan kamu, cobalah fikir kamu yang sakit berapa banyak waktumu
terbuang, berapa banyak orang yang khawatir dan menyusahkan mereka, yah itu
saja sekali maaf kalau suaraku sedikit keras, hehhehe
Rasa jengkelpun hilang mendengar diakhir petuah bu dokter
ini meminta maaf karena sedikit keras,
dan akupun paham ini semua demi kebaikan aku. Sebelum kembali ke rumah
aku telah berjanji dengan diriku sendiri untuk mengalahkan egoku dengan beralih
makan bubur untuk beberapa minggu ke depan dan rutin minum obat agar aku tak
menyusahkan orang lebih banyak. Terimakasih untuk lelaki yang setia menemaniku
dan perempuan yang selalu ada disaat saya butuh, maafkan menyusahkan kalian
.
Jangan sepelekan
penyakit maag yang kamu anggap
biasa-biasa saja karena pada akhirnya dampaknya akan membuat kamu menjadi
seorang yang manja dengan berbelas kesembuhan dari tim medis dan terutama sang
penguasa di atas segalanya.
Tman kuu kau eh, bkin blok mii towa..?
BalasHapusHehheheh, baru belajar sering" mampir yaa😍😍
BalasHapus