Sabtu, 31 Desember 2016

Dentuman


Dentuman

PerempuanAksara

Bukan tentang siapa lalu aku tertawa, bukan tentang seberapa lama lalu aku setia dan bukan tentang akhir tahun lalu aku berpesta.  Merayakan kepergian serupa menyambut kedatangan yah tentang tahun 2016 di penghujung petang dan tentang kedatangan tahun 2017 dengan segala bait-bait lalu menghambur serupa bahasa Tuhan.

Berbahagia, mungkin kata yang tepat untuk mereka yang benar-benar menikmati pergantian tahun menuju tahun yang lebih tua, turut berbahagia sebab tuhan masih mengizinkan aku mengucapkan syukur  di awal tahun 2017.

Untuk kesekian kalinya aku mendapat restu menikmati pergantian tahun di kota metropolitan, Jakarta dan untuk kesekian kalinya lagi tuhan belum merestui kita bersama menikmati pergantian tahun.  Tiba-tiba saja rupamu menyuguhkan rindu, yah kamu yang kunamai sahabat, sedang apa kamu? Menikmati setiap dentuman yang menggelegar lalu menghambur ke atap-atap bumi? Ataukah sedang mengasah hati untuk tentap menunaikan kata yang  pernah terucap 6 tahun silam?

Sejak sore tadi tak kutemukan deretan namamu yang tertera di layar Hpku  seperti mereka yang menyapa seraut rindu tertantancap di mata batin yang telah dibuahi kebersamaan, lalu bagaimana denganmu?  

Sudahlah sahabat, tak berkabarpun aku tahu kamu sedang  bersenandung dengan kisah yang belum kamu mulai. Tak apa jika kamu melupakan tanggal di mana kamu menamai aku dengan sebutan “andikku”, kalau boleh biarlah aku sejenak mengulang tumpukan kenangan denganmu sahabat, tepat hari ini, 6 tahun kamu menjelma menjadi sahabatku dan sewaktu waktu menjelma menjadi panutanku lalu menyerupai ayahku dan sesekali menjadi kekasihku.

Sahabat, di sini begitu semberawut. Jalanan setapakpun dijadikan lapak untuk mengais rezeki, bahkan untuk keluar di depan rumah saja sepertinya aku ragu bagaimana tidak, desakan, peluh, bising, menyatu menyerupai  dentuman lalu menghambur bersolek dengan kemenangan.

Sahabat, benar adanya jika kota ini menyandang ibu kota nan metropolitan,  gang-gang yang dahulunya tempat anak-anak belajar berlari malam ini menjadi taman jajakan, gemerlap lampu, yang berwarna warni, petasan yang beradu dentuman kian merekah, lalu bagaimana aku bisa fokus menunaikan rinduku kepadamu sedang disekelilingku tawa menggelegar layaknya pesta baru saja di mulai.

Sahabat, aku ingin marah tapi aku takut, taku jika keegoisanku menggantikan tawa mereka dengan kecewa. Akupun bahagia dengan kedatangan tahun yang makin menua ini sebab ritual yang selalu kutunaikan selama beberpa tahun  silam setidaknya terwujud kembali, bersenandung dengan kekasihku, kekasih yang belum kutemui nyata rupanya namun nyata dalam ketiadaan. Aku  meluruhkan segala harap, menangis sejadi-jadinya dan kamu tahu sahabat, aku menemukan damai setelah beberpa menit kutumpahkan segala tumpukan aksaraku termasuk kisahku denganmu sahabat.

Sahabat, dentuman mulai beradu ketenaran, ribuan mata tertuju pada atap-atap bumi yang sedang kedatangan tamu dengan rupa yang aduhai dan mungkin saja sepasang matamupun sedang menyaksikan sahabat lalu terbingkai puas di hatimu dan jika benar, maaf sahabat kali ini kita tak sejalan aku memilih beradu Aksara dengan hatiku sekiranya itupun membuatku bahagia.

Teruskanlah sahabat, aku tak kan marah sebab akupun bukan ahli ulama yang akan menerangkanmu kata per kata untuk tak merayakan tahun baru, sebab kamupun paham bagaimana meritualkan syukur dengan  kesempatan memulai kata di awal tahun yang menua ini.

Dan jika boleh sahabat, setelah kamu usai merayakan, berkabarlah. Andikmu ingin bercerita  tentang kata yang pernah terucap 6 tahun silam. Aku menunggu!




1 komentar: