Jumat, 30 Desember 2016

PerempuanAksara

Kado Desember


PerempuanAksara


Dan benar waktu tak pernah menunggu siapapun untuk menjadi lebih baik ataupun menjadi jahat. Teruntuk perempuan yang telah menghadiakanku kehidupan selama 24 tahun ini kata terimakasihpun sepertinya tak cukup untuk segala kelapangannnya.

Ima, seperti itu mereka menamaiku, jangan tanyakan makna nama dari pemberian orang tuaku karena yang kutahu tak ada orang tua yang ingin memberikan hal yang tidak lazim kepada anaknya termasuk pemberian nama.

Berada dititik umur 24 tahun, rasanya aku belum  menjadi manusia yang sebenarnya, bukankah dikatakan manusia jika sudah bermanfaat terhadap orang lain? memiliki hobby petualang sepertinya sudah mendarah daging serupa langkahku kali ini memilih bermain kembali di tanah Jawa. 


Pernah sekali kawan bertanya kepadaku, apa yang kamu cari dengan bepergian? apa orang tuamu tidak khwatir membiarkan anak gadisnya pergi  tanpa pengawasan? mendengar pertanyaan itu aku kembali teringat dengan janji yang telah kusepakati dengan diriku" jauh sebelum aku menunaikan hobbyku telah kutamatkan niat yang baik untuk langkahku ke depan"  bukankah segala sesuatu hal jika dimulai dengan niat yang baik, insha Allah hasilnya akan baik pula? termasuk hobbyku yang  suka bepergian, semata-mata karena mengunjungi tempat yang berbeda merupakan kebahagiaan tersendiri dan setidaknya bisa bermain sambil membantu, mengajar misalnya.

 Tak ada orang tua yang tidak khawatir ketika berpisah dengan anaknya,  suatu kebanggan tersendiri aku dilahirkan di rahim perempuan tangguh yang tak pernah menghalagi keinginan putrinya selama masih batas kewajaran sekalipun terbentang laut nan luas, sunguh suatu kesyukuran tak terhingga.


Jawa Barat, kota Bekasi desa Bojong, kali ini menjadi pilihan langkahku, desa nan aduhai, belum terjamah dengan dunia modernisasi. Menghabiskan waktu sepekan di desa Bojong seperti sehari, warga yang ramah dan penuh santun membuat aku betah berkunjung ke tempat ini. benar kata mereka" perbanyak teman, pintu rezeki datang segala penjuru arah" dan terbukti waktu aku berkunjung ke Bojong, tak perlu repot-repot mencari penginapan, sebelum ke sana teman sudah siap menjemput di terminal, namanya Hanifa. 


Aku percaya tak ada yang sengaja di dunia ini termasuk pertemuanku dengan Hanifa dahulu di kota Daeng. selama sepekan aku menghabiskan waktu bersama Hanifa dan warga yang lain di desa Bojong, Hanifa keturunan betawi tulen, logatnya begitu kental seperti kata" bussyet dah".

Begitu banyak cerita dan pengalaman selama sepekan di Jawa Barat dan yang paling berharga di rumah Hanifa ketika subuh bertandang sekitar pukul 04.30 semua penghuni di wajibkan bangun menunaikan kewajiban sebagai hamba Allah dan setelah shalat subuh kita tidak boleh melanjutkan tidur, kata babe  “tidak baik anak perawan pagi-pagi masih molor.


Sepekan telah berlalu aku kembali ke Jakarta menemui salah satu  kerabat Ibu yang sudah bermukim sejak puluhan tahun di kota nan metropolitan ini. Penghujung tahun 2016 aku menghabiskan di sini, apatah daya semua di luar dugaan, sepulangku dari Jawa Barat, badan mulai drop, suhu badan mulai  tidak jelas. 

Perempuan paruh baya yang kunamai tante mulai resah dan membujukaku untuk segera di bawa ke Rumah Sakit. karena merasa kuat dan jagoan perihal kekebalan akupun menolak, aku tetap merasa so kuat dan tantekupun mengalah.

berselang dua hari rupanya suhu badanku menjadi-jadi alhasil aku di temukan pingsan di kamar. Rumah Sakit?  aku terpelongok ketika mata sudah mulai meraba sekitarnya yang kutemui beberapa jagoan  sedang terbaring menunggu petuah sang guru, deretan cairan infus bergelantungan seperti layang-layang menjadi hiasan di kamar 704.

 Benar, aku kalah! akupun harus tunduk pada secarik kertas dengan petuah sang Guru. 3 hari menjelang pergantian tahun, akupun di izinkan pulang dengan catatan tidak boleh makan indome, ayam, minuman berwarna dan masih banyak lagi, mendengar petuah sang guru akupun harus tunduk agar segera mungkin kembali ke habitatku, rumah! 

Tak ada yang perlu di sesali, toh dengan teguran aku dipilih menjadi salah satu perempuan yang menerima sakit cacar dan Maag  dari sang agung, akhirnya aku menghabiskan waktu untuk istrahat dan sejenak berhenti berpetualang, sekuat-kuatnya raga rupanya istirahat juga perlu.

Bukankah sakit itu anugrah? bukankah sakit itu pengugur dosa? lalu apa yang kamu takuti, sebagai ciptaanya cukup menerima dan bersabar lalu memanjatkan bait-bait serupa bahasa TUHAN.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar