Kado Desember
PerempuanAksara
Dan benar waktu tak pernah menunggu siapapun untuk menjadi
lebih baik ataupun menjadi jahat. Teruntuk perempuan yang telah menghadiakanku
kehidupan selama 24 tahun ini kata terimakasihpun sepertinya tak cukup untuk
segala kelapangannnya.
Ima,
seperti itu mereka menamaiku, jangan tanyakan makna nama dari pemberian orang
tuaku karena yang kutahu tak ada orang tua yang ingin memberikan hal yang tidak
lazim kepada anaknya termasuk pemberian nama.
Berada
dititik umur 24 tahun, rasanya aku belum menjadi manusia yang sebenarnya,
bukankah dikatakan manusia jika sudah bermanfaat terhadap orang lain? memiliki
hobby petualang sepertinya sudah mendarah daging serupa langkahku kali ini
memilih bermain kembali di tanah Jawa.
Pernah
sekali kawan bertanya kepadaku, apa yang kamu cari dengan bepergian? apa orang
tuamu tidak khwatir membiarkan anak gadisnya pergi tanpa pengawasan? mendengar
pertanyaan itu aku kembali teringat dengan janji yang telah kusepakati dengan
diriku" jauh sebelum aku menunaikan hobbyku telah kutamatkan niat yang
baik untuk langkahku ke depan" bukankah segala sesuatu hal jika
dimulai dengan niat yang baik, insha Allah hasilnya akan baik pula? termasuk
hobbyku yang suka bepergian, semata-mata karena mengunjungi tempat yang
berbeda merupakan kebahagiaan tersendiri dan setidaknya bisa bermain sambil
membantu, mengajar misalnya.
Tak
ada orang tua yang tidak khawatir ketika berpisah dengan anaknya, suatu
kebanggan tersendiri aku dilahirkan di rahim perempuan tangguh yang tak pernah
menghalagi keinginan putrinya selama masih batas kewajaran sekalipun terbentang
laut nan luas, sunguh suatu kesyukuran tak terhingga.
Jawa
Barat, kota Bekasi desa Bojong, kali ini menjadi pilihan langkahku, desa nan
aduhai, belum terjamah dengan dunia modernisasi. Menghabiskan waktu sepekan di
desa Bojong seperti sehari, warga yang ramah dan penuh santun membuat aku betah
berkunjung ke tempat ini. benar kata mereka" perbanyak teman, pintu rezeki
datang segala penjuru arah" dan terbukti waktu aku berkunjung ke Bojong,
tak perlu repot-repot mencari penginapan, sebelum ke sana teman sudah siap
menjemput di terminal, namanya Hanifa.
Aku
percaya tak ada yang sengaja di dunia ini termasuk pertemuanku dengan Hanifa
dahulu di kota Daeng. selama sepekan aku menghabiskan waktu bersama Hanifa dan
warga yang lain di desa Bojong, Hanifa keturunan betawi tulen, logatnya begitu
kental seperti kata" bussyet dah".
Begitu
banyak cerita dan pengalaman selama sepekan di Jawa Barat dan yang paling
berharga di rumah Hanifa ketika subuh bertandang sekitar pukul 04.30 semua
penghuni di wajibkan bangun menunaikan kewajiban sebagai hamba Allah dan
setelah shalat subuh kita tidak boleh melanjutkan tidur, kata babe “tidak baik anak perawan pagi-pagi masih
molor.
Sepekan
telah berlalu aku kembali ke Jakarta menemui salah satu kerabat Ibu yang
sudah bermukim sejak puluhan tahun di kota nan metropolitan ini. Penghujung
tahun 2016 aku menghabiskan di sini, apatah daya semua di luar dugaan,
sepulangku dari Jawa Barat, badan mulai drop, suhu badan mulai tidak
jelas.
Perempuan
paruh baya yang kunamai tante mulai resah dan membujukaku untuk segera di bawa
ke Rumah Sakit. karena merasa kuat dan jagoan perihal kekebalan akupun menolak,
aku tetap merasa so kuat dan tantekupun mengalah.
berselang
dua hari rupanya suhu badanku menjadi-jadi alhasil aku di temukan pingsan di
kamar. Rumah Sakit? aku terpelongok ketika mata sudah mulai meraba
sekitarnya yang kutemui beberapa jagoan sedang terbaring menunggu petuah
sang guru, deretan cairan infus bergelantungan seperti layang-layang menjadi
hiasan di kamar 704.
Benar,
aku kalah! akupun harus tunduk pada secarik kertas dengan petuah sang Guru. 3
hari menjelang pergantian tahun, akupun di izinkan pulang dengan catatan tidak
boleh makan indome, ayam, minuman berwarna dan masih banyak lagi, mendengar
petuah sang guru akupun harus tunduk agar segera mungkin kembali ke habitatku,
rumah!
Tak
ada yang perlu di sesali, toh dengan teguran aku dipilih menjadi salah satu
perempuan yang menerima sakit cacar dan Maag dari sang agung, akhirnya
aku menghabiskan waktu untuk istrahat dan sejenak berhenti berpetualang,
sekuat-kuatnya raga rupanya istirahat juga perlu.
Bukankah
sakit itu anugrah? bukankah sakit itu pengugur dosa? lalu apa yang kamu takuti,
sebagai ciptaanya cukup menerima dan bersabar lalu memanjatkan bait-bait serupa
bahasa TUHAN.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar