Kamis, 20 Oktober 2016

http://imma-irma.blogspot.com/2016/10/puncakbukan-untuk-aku-bersama-kalian.html


Puncak bukan untuk aku bersama kalian

Hampir sebulan rencan ini sudah disusun matang-matang oleh teman-teman seangkatan, mungkin saja rindu tak cukup menuntaskan kebersamaan kami 4 tahun selama kuliah. Heheheheh.  Rindu memang tak pernah berakhir  seperti kisah dua sejoli teman semasa kuliah, sebut saja namanya Dania wanita yang pernah menitipkan kasih kepada lelaki teman kuliahnya hanya saja mereka berbeda jurusan, mereka saling mengenal ketika masih maba (mahasiswa baru), mungkin saja ini dibilang cinta monyet, hanya saja hubungan mereka tak bertahan lama dan berawal dari kisah yang berakhir, berawalpula mereka tak pernah bertutur sapa.

Apa sebenarnya yang salah dari Cinta? Menjalin kasih, saling menyanyangi dan ketika putus rasa itu berbanding terbalik seperti musuh bebuyutan, 3 tahun mereka tak pernah saling menegur dan hari ini mereka  kembali dipertemukan disuatu tempat di mana mereka pernah mengadu kasih. Tak ada sepatah kata yang  terungkap dari bibir sepasang sejoli ini, semua tiba-tiba hening, kata yang sudah dirangkai 3 tahun lalu rupanya  ambruk ketika sepasang bola mata bertatapan tanpa kedipan, ternyata sepasang sejoli ini masih menyisihkan rindu meskipun keduanya sudah memiliki pasangan masing-masing, siapa yang bisa mengelak dari perasaan dan itu manusiawi. Mungkin saja kedatangan mereka di tempat yang pernah terukir kisah kembali ingin menuntaskan rindu.

 Ahh sudahlah kita lupakan saja sepasang sejoli ini,biarkan mereka mengadu rindu seperti kita yang segera menuntaskan rindu dipuncak bulsar, kembali kerencana teman-teman angkatan yang ingin melakukan reunian atau temu kangen di puncak Bulussaraung (BULSAR). Melihat info di group “yang ingin bergabung supaya ikut ngopi besok di warkop Bundu.  Sejenak saya senyum-senyum sendiri sesekali kembali membaca pesan teman-teman, ide yang cukup menarik lain dari yang lain biasanyakan reunian di kafe-kafe tapi ikali ini berbeda dan malam itupun saya berjanji untuk ikut direunian kali ini, ada tantangan tersendiri mendaki sekaligus reunian, suatu kesatuan yang sangat unik.

 tak cukup waktu lama, saya segera membalas pesan digroup menyatakan kesiapan ikut tanpa pikir panjang,dan itu disambut baik oleh teman-teman. Tak sabar menunggu esok untuk segera berkumpul membahas reunian kali ini dan yang pastinya ngopi bareng mereka. Keesokan harinya jam menunjukkan pukul 10.30 saya segera melajukan kimchi dengan manis tak cukup watu 15 menit saya sudah tiba diwarkop bundu, rupanya teman-teman sudah datang duluan, kulihat dari kejauhan lelaki dengan fisik sedit tipis meneguk dengan lihai kopi yang sudah disuguhkan, wajahnya mulai sedikit asing maklum setahun kami baru bertemu lagi dan kutemukan sapaan senyuman manis yang tidak pernah berubah dari dulu, sebut saja namanya Fikri, postur tubuhnya seperti model, bentuk rupanya yang cukup menawan di tambah ginsulnya memperindah rupanya ketika senyum, alhasil dia menyandang gelar palayboy semasa kami kuliah.

“hallo bebb”( itu panggilan kesayangan kami)

“ hallo bebb” (serentak mereka menyapaku, hehhehe kompak yaa)

Ada kedamaian sendiri ngopi bareng mereka, dan ternyata kekonyolannya tak berubah membawa domino kemana-mana.

“ pesan apaki beb? Tawaran dari salah satu lelaki andalan, sebut saja bang Zaenap, saya lebih senang memanggilnya abang, postur tubuh yang sedikit dibawah rata-rata tapi keramahannya dan cara memperlakukan sahabat perempuannya dengan penuh cinta membuat saya lupa kalau si abang ini ternyata lebih pendek dari saya, hehhehe. Yang unik dari pertemuan kali ini, hanya saya sendiri yang paling cantik dikelilingi 7 lelaki andalan, suatu kebahagiaan memiliki sahabat seperti mereka.

“kita berangkkat setelah shalat jumat, semua peralatan sudah siap, dan yang fiks ikut 15 lelaki dan 3 perempuan “ (  kata bang Zaenap dengan gagahnya)

Insha Allah bebb, siap (sekali lag kujawaba tanpa pikir panjang)

Entah angin apa yang mencumbuiku sampai saya selalu mejawab iya. Pertemuan kami hari itu tak berlangsung lama, kamipun berpisah dan kembali ketempat masing-masing berhubung lusa kita akan berangkat,  dan butuh istirahat.

 Minus sehari kembali teman laki-laki menanyakan kesiapan untuk keberangkatan besok. Saya seperti bisu dadakan tak ada kata yang bisa kulontarka ada dentuman di dada menjanggal, ada janji yang telah kuingkari, ada kecewa yang segera mungkin kudapati, tapi saya harus memberi tahu mereka kalau saya tidak bisa ikut.

“ maaf, beribu maaf teman-teman rupanya Tuhan belum mengijinkan kita bersama dipuncak, mengingat kondisi fisik yang tak memungkingkan berhubung masih dalam proses penyembuhan, dan mendaki butuh tenaga ekstra, saya tidak ingin membebani kalian”
Dan yang kubayangkan ternyata ada kecewa yang segera kutemui itu benar.

“ dehh.. kenapaki tidak bisa ikut? usahakan bebb persiapan sudah matang apalah artinya tanpa kamu” ( balasan dari salah satu teman seangkatanku)

“ masalah fisik, saya siap jagaiki kecuali nyawata, ikutmaki! ( dan kali ini pesan saya dibalas dari salah satu lelaki yang jarang kudengar suaranya)

Terharu dan merasa bersalah rupanya mereka begitu menyanyangiku tapi saya tidak boleh egois hanya karena janji yang harus kutunaikan banyak yang kukorbankan termasuk kesenangan mereka saat proses tiba di puncak. Bukankah dalam berjanji kita boleh mengingkari jika memiliki alasan yang logis. Sungguh tak pernah ingin kuhadiakan janji palsu hanya saja ragaku tak mampu menjelaskan kata demi kata.
Tenang sahabat, janji yang kuingkari ini segera mungkin akan kutebus meskipun bukan dipuncak, bersabarlah! Selamat mendaki teman-teman andalan selamat sampai di puncak!



1 komentar: