Pedis-pedis
enak
Musim
hujan sudah tiba, musim segala rindu telah menyapa. Hujan identik dengan
banjir, longsor ataupun macet tetapi hujan tak pernah terdustakan kehadirannya
sebab selalu ada kenangan yang lebur dalm rinainya...
Malam
makin hening pintu-pitu anak kos kosan di sini satu persatu mulai tertutup
rapat, ada yang lampunya masih nyala adapula yang sudah gelap entah apa yang
mereka lakukan, mungkin saja hujan telah
mengusik mereka dengan kenangannya barangkali? atau hujan menantang mereka
beradu diperaduan dengan menuntaskan dingin dibalik selimut? Aku selalu percaya akan ada kenangan dibalik
hujan yang mengalun cukup lama.
Saya
memilih duduk diruang tamu sembari membuka kecil jendela agar kulihat jelas
betapa damainya gemercik hujan di malam hari, sesekali rinaiya mencolekku
dengan lembut, kecupan angin yang sepoi menambah gairah agar aku tetap di sini,
bernostlgia dengan hujan. Hujan paling nyaman disuguhi dengan gorengan ataupun
sarabba tapi apadaya tinggal saya sendiri diruang yg hening ini, inisiatif
mulai mengocek kampung tengah ( perut) merengek diseduhkan sesuatu yang tepat
dengan suasan hening dan dingin.
Sebagai
anak kos-kos’an apa sih yang paling instan kalau bukan INTER ( INDOMIE TELUR)
makanan ini sepertinya makanan yang paling praktis dan satu lagi murah meriah,
75 % anak kos- kosa”an selalu memiliki stok indomie dan telur, tak butuh waktu
lama segera menuju dapur menyelesaikan khayalan yanag hampir bikin ngiler. Cabe
rawit 15 biji mungkin menyediakan rasanya tersendiri, jeruk nipis dengan rasa
yang kecut tetapi selalu menggugah selera dan yang pasti Indomie.
Photos by Egisatria at warawiri.wordpress.c
Tak
butuh waktu berjam jam khayalanpun jadi nyata semangkuk indomi telur dengan
warna warni cabe rawit terpampang di atas mie yang siap dilahap, hmmm baru
ingin memulai satu persatu tetangga kamar pada berhamburan menuju ruang tamu,
oh rupanya mereka belum tidur, salah satu dari mereka dengan senyum kacci” hmmm
harumnya sampai di kamar, apalahdaya terpakasa kupasrahkan diriku mencicipinya”
sambil menyeduh kuahnya yang perlahan mulai mengental...
ah
kalau begitu mari kita nikmati semangkuk indomie ini bersama sama, biarkan hujan
pelengkap malam ini. Rupanya mereka ketagihan, katanya ada yang lain dari
semangkuk indomi malam ini, rasanya yang sedikit kecut, pedis tetap menyediakan
sisi lembutnya, pedis- pedis enak katanya.. hahahah tawa kamipun menggelegar merombak sunyi dalam pelukan
hujan.

Awalnya bikin fiktor... ternyata intel to.... ceritanya anak kos kosan banget
BalasHapusKeren diksinya mbak Irma syukur,kita seakan terbawa dalam suasana reubnya saat membaca cerita ini. tetapp berkaryaa.
BalasHapusMakasih 😊😊sering" mampir yaa😍
BalasHapus